customer service
Selamat datang di web ini. Ada beragam materi sekolah dan informasi seputar pelajaran Islam. Mari kita merubah tujuan belajar untuk mengenal sang pemilik ilmu


Cari Materi sesuai label :

  

  

petunjuk al-qur'an dalam memilih pemimpin



Di  zaman sekarang ,  banyak  orang     mengejar jabatan, atau kedudukan .  Menurut mereka   tidak lengkap rasanya hidup ini , kalau tidak   menjadi orang penting, atau  dihormati   
       Mereka  rebut   jabatan, tanpa mengetahui siapa   dirinya,dan bagaimana kemampuannya  . Mereka  menganggap jabatan adalah suatu  keistimewaan . Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan,  dan pelayanan terhadap   masyarakat .         Al-Quran dan Hadits   sudah mengatur,   bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin .
Ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan
dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial, antara   pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt.   Q. S. Al-Baqarah (2): 124,
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَ‌اهِيمَ رَ‌بُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّ‌يَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga    ? Allah swt menjawab: Janji (amanah)Ku ini ,tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Pertama Kepemimpinan adalah amanah
,ia adalah   titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi   diperebutkan .   Sebab pemimin    gunanya ,  untuk memudahkan ,dalam    melayani kehidupan  masyarakat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang   ,  semakin meningkat  pula pelayanan terhadap  masyarakatnya . Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang, untuk memperkaya diri
            Ketika Abu Dzar, meminta suatu jabatan kepada   Nabi, Rasulullah  saw bersabda:
"Kamu lemah, dan ini adalah amanah, sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan, dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim).       
Sikap yang serupa, pernah  ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata:
"Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan ,pada salah satu bagian, yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah, Kami tidak mengangkat seseorang, pada suatu jabatan, kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan .
Diantaranya  adalah, dengan mengambil keputusan yang adil, antara dua pihak yang berselisih,  atau memutuskan suatu hukum sesuai dgn lesalahan ia Ia lakukan. Q. S. Shad (38): 25,
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْ‌ضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
"Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
            Menurut    Hafidhuddin, ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri.   An-Nisa  4)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّ‌سُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ‌ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُ‌دُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّ‌سُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ‌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
: 58, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri , adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus      urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin yg mendapat redo Allah
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat).  , seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani.   hakikat pemimpin sejati, adalah seorang pemimpin yang sanggup   menjalankan amanat Allah swt ,untuk mengurus dan melayani masyarakat
         Menurut  Hadits      , minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang, sebagai syarat untuk menjadi pemimpin.     yaitu:
1)      (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya.  
2)      (2). Amanah, yaitu kepercayaan, yang menjadikan dia   menjaga sebaik-baiknya, apa yang diamanahkan kepadanya   
3)      (3) Fathonah, yaitu kecerdasan,    kemampuan dalam menghadapi   persoalan, yang muncul di masyarakat   
4)      (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya ,bukan  menutupi kekurangan dan kesalahan.
      
       Menurut  Al-Mubarak   ada empat syarat untuk menjadi pemimpin:
Pertama, memiliki aqidah yang benar  
Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas  
Ketiga, memiliki akhlak yang mulia  
Keempat, memiliki keahlian  dalam mengatur urusan-urusan duniawi.
         Pemihan umum baru berlalu ,banyak yg tdk siap menerima kekalahan.  ada   kebaikan yg tlh  diberi ditarik kembali, itulah ciri pemimpin yg ditakuti Rasulullah seperti dlm sabdanya :   .
    Rasulullah saw bersabda
“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian ,para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang, di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka, dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku ,bukan lagi golongan mereka, dan mereka bukan golonganku, dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka, dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka, maka ia adalah termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (H.R. At-Thabrani)
Umar ibnnu khatab, ketika masih menjadi  khalifah beliau berkata” Jika ada seeker kuda yg  terjatuh di Irak,maka  saya akan ditanya  diakhirat ,kenapa jelan itu tdk diperbaiki. “setiap kamu pemimpin ,dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinanya (dipertanggungjawapan diakhirat)

Drs.Idrus Uteh

Related Post

Previous
Next Post »

Total Tayangan Halaman